Archive | June, 2010

Mengkritik Dengan Cara Yang Baik

16 Jun

Kritikan merupakan memberikan pendapat yang  “beralasan”, “mempertimbangan nilai”, “menginterpretasi”, atau “pengamatan”. Istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang pengikut pendirian yang berselisih dengan atau menentang objek kritikan . Kritikan sering dianggap sebagai penghinaan dan juga pukulan telak dan harus ditolak keras. Namun,  sekarang hal tersebut telah berlalu dan tak berlaku lagi, karena kita tengah berada di era demokrasi. Era dimana kita diberikan ruang yang cukup luas untuk menyampaikan kritik, saran, ketidak puasan dan apa pun yang semuanya sudah dilindungi oleh undang-undang.

Kebebasan bersuara itu terkadang menjadi suatu masalah karena sering kali kita kebablasan dalam menyikapi kebebasan yang sudah diberikan dan ruang yang disediakan itu. Hal inilah yang terkadang mengundang perselsihan dan pertengkaran antara satu dengan yang lainnya. Untuk itu. kita harus mengetahui  beberapa hal untuk mengkritik seseorang, antara lain:

  1. Memahami dan menguasai permasalahan yang akan dikritik terlebih dahulu. Hal ini dapat dilakukan dengan mencari semua informasi yang berhubungan dengan hal tersebut, sehingga kesalahpahaman tidak akan terjadi.
  2. Memperhatikan cara atau sikap saat mengkritik. Hal ini menggambarkan bagaimana cara kita ketika mengkritik.  Cara yang baik saat mengkritik adalah menggunakan cara yang santun dan baik.  Selain itu,  jangan sampai kamu menyampaikan kritik secara emosional serta gunakanlah bahasa yang baik dan tidak ambigu agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
  3. Menyesuaikan dengan situasi dan kondisi.  Situasi dan kondisi yang dimaksud adalah dengan memperhatikan mood/suasana hati orang yang akan dikritik. Hal ini  dilakuka agar tidak menyimpan rasa dendam dan pperselisihan atara kedua belah pihak. Selain itu, kritikan yang diberikan juga bukanlah kritik yang pedas, apalagi hal tersebut dilakukan di hadapan orang lain apalagi orang banyak.  Cara tersebut akan mebaut malu orang tersebut, meimbulkan rasa dendam,dll. Ini bukanlah cara yang etis, seharusnya cara penyampaian kritikan haruslah dengan cara yang baik.
  4. Memberikan kritikan yang tidak bersifat pribadi. Kritikan yang diberikan harus pada perbuatan orang tersebut, bukan orangnya.Di sinipun, sekali lagi, Anda bisa menghindari ego orang lain, dengan mengkritik tindakan atau peri lakunya, bukan pribadinya. Bagaimanapun juga, Anda menaruh perhatian pada tindakannya.
  5. Jika orang/lembaga yang kamu kritisi/ kritik mau merubah diri atau melakukan apa yang kita sarankan, jangan sekali-sekali kamu merasa berjasa atau memiliki andil atas perubahan tersebut. Selain menimbulkan rasa ujub/ takabur, hal tersebut juga menunjukan secara tidak langsung bahwa diri andalah yang sesungguhnya harus dikritik.
  6. Jangan lupakan yang namanya ‘niat’ baik, ketika kamu mengkritisi atau memberi saran kepada orang lain niatkan sebagai ibadah. Dengan adanya niat yang baik, maka kritikan yang diberikan akan bersifast membangun bukan menjatuhkan seseorang.
  7. Mengakhiri dengan cara bersahabat.  Jangan meninggalkan apa saja dalam keadaan menggantung di udara, untuk dibahas kemudian hari. Selesaikanlah sekarang juga. Kuburkan masalah itu. Berikanlah orang lain tepukan di punggung, jabat tangan atau tersenyum. Akhiri dengan kenangan baik.

How Good To Manajemen Time

16 Jun

Manajemen waktu merupakan suatu pengorganisasian, perencanaan dan pengawasan terhadap produktivitas waktu. Waktu merupakan suatu sumber daya yang harus dikelola secara efektif dan efisien, karena waktu itu sangatlah berharga. Manajemen waktu ini berfungsi kepada produktifitas dari perbandingan waktu yang ada dengan waktu yang sudah dipergunakan.

Pembuatan manajemen waktu sebenarnya sangat sederhana. Hanya saja, di dalam mengelola pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang sudah dibuat tersebut yang sedikit rumit. Hal ini dikarenakan bagaimana semua kegiatan tersebut dapat terselesaikan dengan kualitas yang maksimal dan dengan stress yang minimal. Untuk itu, salah satu alat bantu yang dapat dipergunakan adalah penjadwalan.

Segala sesuatu memang tidak dapat direncanakan dengan rinci tiap detiknya,karena banyak hal yang berada di luar kendali kita. Namun, dengan adanya perencanan waktu yang baik, kita pasti memiliki pola yang jelas untuk mengoptimalkan waktu dan mengurangi peluangnya kelupaan untuk suatu aktivitas.

Berikut ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk melakukan pengoptimalan waktu dan memanajemen waktu yang kita miliki.

  1. Membuat Daftar Kegiatan. Ada terdapat 4 jenis  kegiatan, yaitu:
    1. Aktivitas rutin terjadwal, merupakan kegiatan yang rutin dan telah ditetapkan waktu pelaksanaannya.
    2. Aktivitas rutin tidak terjadwal, merupakan kegiatan-kegiatan rutin yang waktu pelaksanaannya bisa diatur sendiri.
    3. Aktivitas insidentil terjadwal, merupakan kegiatan tidak rutin dan biasnya sudah dijwadwalkan jauh-jauh hari
    4. Aktivitas insidentil tidak terjadwal, merupakan kegiatan rutin yang waktunya diberitahukan secara tiba-tiba.
  2. Menentukan Skala Prioritas. Jika semua kegiatan sudah didaftarkan, hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah menggollongkan kegiatan tersebut berdasarkan skala prioritas kita. Suatu kegiatan memiliki prioritas yang tinggi jika pihak lain bergantung pada hasil kegiatan tersebut, tidak dapat diwakilkan,  tidak dapat dijadwal ulang,  akan berdampak buruk jika tidak dilakukan, dan kesempatan untuk melakukannya sangat langka.
  3. Memperkirakan Waktu untuk Tiap Kegiatan. Hal ini dapat dilakukan dari pengalaman-pengalaman kita sebelumnya. Namun, untuk setiap aktivitas yang ada kita harus memberikan pertanyaan berikut:  Apakah pengerjaannya selama ini sudah efisien?, Apakah kita dapat mengerjakannya dengan cepat?, Apa yang dapat kita lakukan untuk dapat mengoptimalkan aktivitas itu? Untuk kegiatan-kegiatan tertentu yang belum pernah kita kerjakan, ada baiknya kita memberikan waktu tambahan. Jadi, kalau kita memperkirakan tugas tersebut bisa selesai dalam waktu 2 jam, kita dapat menambahnya setengah jam. Hal ini dapat dipertimbangkan karena memang ada hal-hal tertentu yang memilki tingkat kerumitan tinggi atau berhubungan dengan orang lain.Selain itu kita juga harus realistis dalam memperkirakan waktu pengerjaan. Misalnya saja, rasanya sangat tidak realistis bila anda hanya mealokasikan waktu 15  menit untuk menyusun sebuah proposal yang Anda sendiri belum yakin isinya apa.
  4. Mengalokasikan Waktu. Kegiatan-kegiatan terjadwal tidak bisa kita kendalikan kapan waktu pelaksanaannya. Tetapi kegiatan-kegiatan tidak terjadwal dapat kita selipkan di antara apa yang sudah terjadwal. Sebisa mungkin pilih waktu pelaksanaan yang efektif. Misalnya, untuk pengerjaan sesuatu yang memerlukan konsentrasi tinggi, pilih saat di mana pikiran masih dalam kondisi segar.
  5. Mengevaluasi Penerapan Jadwal. Setelah seminggu berjalan, amati apakah semua aktivitas dapat dilakukan dengan baik? Bila masih banyak tanggung jawab terlalaikan dan banyak waktu terbuang, maka ada kemungkinan jadwal yang kita buat belum efektif. Lakukan revisi yang diperlukan misalnya dengan mengurangi kegiatan dan mempertimbangkan pendelegasian tugas.
  6. Belajar untuk Mengatakan Tidak. Terkadang untuk mendapatkan kesan positif, kita merasa segan untuk menolak permintaan rekan kerja, terutama atasan. Akan tetapi, kita juga perlu mengetahui batas kemampuan. Bila merasa beban kerja terlalu banyak hingga tidak mungkin memberi hasil yang baik, sebaiknya sampaikan fakta tersebut secara elegan. Anda tidak harus menolak tanggung jawab tersebut, namun Anda bisa saja meminta waktu pengerjaan ekstra atau menawarkan pendelegasian tugas tersebut pada orang lain sembari mengajukan alasan yang logis dan berdasarkan fakta.

Meningkatkan Soft Skills

16 Jun

Soft skills adalah sebuah istilah  dalam sosiologi tentang EQ (Emotional Intelligence Quotient) seseorang, yang dapat dikatagorikan / dikelompokkan menjadi kehidupan sosial, komunikasi, bertutur bahasa, kebiasan, keramahan, optimasi.  Soft skills adalah ‘berbeda’ dengan hard skills yang menekankan kepada IQ, artinya penguasaan ilmu pengetahuan, teknolgi dan ketrampilan teknis yang berhugungan dengan bidang ilmunya.

Soft skills ini sangat penting bagi setiap orang, apalagi di dalam dunia kerja. Hard skills memang penting dalam bekerja, tetapi keberhasilan seseorang di dalam bekerja biasanya lebih ditentukan oleh soft skills-nya yang baik. Serang psikolog bernama David McClelland bahkan berani mengatakan bahwa faktor utama keberhasilan para eksekutif muda dunia adalah kepercayaan diri, daya adaptasi, kepemimpinan dan kemampuan mempengaruhi orang lain. Yang tak lain dan tak bukan merupakan soft skill.

Kelemahan di bdang soft skill ini biasanya adalah karakter yang telah melekat pada diri seseorang. Untuk merubah karakter tersebut, seseorang pasti membutuhkan usaha yang keras. Peningkatan soft skills ini dapat dilakukan dengan learning by doing (belajar dengan berbuat), mengikuti pelatihan-pelatihan dan seminar-seminar manajemen, berinteraksi dan melakukan aktivitas dengan orang lain. Selain itu, hal tersebut dapat juga dilakukan dengan membaca buku, majalah, dan artikel, serta mencari data penunjang di internet.

Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan softskill yang seseorang adalah ‘Be A Part Of Activities’ (menjadi bagian dari suatu aktivitas). Jika seseorang dapat menjadi bagian suatu aktivitas sudah pasti orang tersebut akan belajar bagaimana berkomunikasi, berintegrasi, beradaptasi,  bekerja sama, berorganisasi, dll. Hal – hal tersebut sangat berkaitan erat dalam peningkatan soft skills.

Seseorang pasti dituntut untuk lebih kreatif, menaati peraturan yang ada di dalam suatu aktivitas tersebut. Hal ini akan dapat memacu orang tersebut untuk lebih berinisiatif, dan beretika. Orang yang sudah menjadi bagian dari suatu aktivitas jelas akan terlihat berbeda jauh dengan orang yang tidak beraktivitas.

I and Myself

16 Jun

Setiap orang pasti memiliki kebaikan dan keburukan pada dirinya masing-masing, karena tidak ada mahluk yang sempurna di dunia ini. Hanya saja kebaikan dan keburukan tersebut akan berbeda satu dengan yang lainnya.

Kebaikan yang saya miliki dalam diri saya adalah penyabar, suka mengalah, pendengar yang baik, serius tapi ada humornya juga, dll.  Mungkin belum banyak hal baik yang terdapat di dalam diri saya, sehingga baik orangtua dan teman yang ada di sekitar saya sering sekali memberikan nasihat dan motivasi kepada saya.

Namun, jika keburukan yang dibicarakan, saya merasa memiliki banyak keburukan. Diantaranya adalah memiliki sikap pesimis, kurang percaya diri, keras kepala, tertutup dan lebih suka menyendiri. Selain itu, saya juga terkadang suka mengulur waktu dan pekerjaan. Saya juga memiliki sifat pendendam, tapi biasanya hanya dipendam dalam hati. Terkadang saya juga memiliki sifat egois dan merasa iri hati terhadap orang lain akan keberuntungan atau keberhasilan yang diperolehnya.

Keburukan yang ada pada diriku mungkin tidak hanya itu saja. Misalnya, saya sebenarnya adalah orang yang sangat gampang tersinggung dan sakit hati. Namun, biasanya saya menutupinya dengan berdiam atau menangis di kamar. Saya juga terkadang tidak dapat menerima krikitan orang lain, tetapi tidak pernah saya perlihatkan secara riil.

Dengan adanya kebaikan dan keburukan tersebut, terkadang saya meng-introspeksi diri saya sendiri, khususnya mengenai keburukan yang saya miliki. Saya ingin menjadi orang yang lebih baik lagi, hanya saja tidak mudah untuk melakukannya. Jika saya mengingat akan keburukan yang pernah saya lakukan, saya merasa sangat bersalah. Pada saat itu, hal yang saya lakukan hanya menangis dan memohon ampun kepada Tuhan.

Untuk melakukan perubahan itu, memang bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Apalagi kita hanyalah seorang manusia biasa yang selalu pasti melakukan kesalahan dan kekhilafan. Namun, saya percaya kalau kita selalu rajin berdoa dan beribadat, kita bisa melakukan lebih banyak kebaikan lagi.