Autobiografiku

27 Feb

Cewek chubby ini sekarang sudah berusia 22 tahun lebih 3 bulan. Dia sekarang masih melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas swasta yang ternama di Indonesia. Dari segi usia, seharusnya dia sudah menyelesaikan pendidikan jejnang S1-nya, malahan sekarang dia harus kuliah dengan teman-teman yang lebih muda dengannya.  Walaupun demikian tidak membuat dia patah semangat, dia terus berjuang demi membahagiakan kedua orang tuanya yang berada jauh dengannya.

Dua puluh dua tahun yang lalu tepatnya tanggal 18 November 1987, dia lahir di sebuah kota kecil yang terdapat di Provinsi Sumatera Utara. Nama kota itu adalah Kabanjahe. Dia dilahirkan dalam sebuah keluarga sederhana dan bahagia. Kelahirannya begitu sangat dinantikan karena sebelum dia dilahirkan, dokter memprediksikan kalau ibunya tidak akan dapat melahirkannya dengan selamat. Tapi ternyata kehendak Tuhanlah berkuasa, dia dapat dilahirkan dengan selamat dan sehat. Kedu orangtuanya memberikannya nama Priskanta. Dia memiliki sesosok bapak yang sangat giat bekerja siang dan malam dan juga bertangggung jawab, ibunya sangat disiplin dan tegas. Dia sangat bahagia dilahirkan dalam keluarga sederhana itu, walaupun pekerjaan bapaknya hanyalah sebagai petani dan ibunya sebagai PNS. Dia tetap bangga dengan kedua orangtuanya dengan segala kekurangannya. Dalam hidupnya, dia memiliki satu tujuan besar untuk membahagiakan kedua orangtuanya, membuat mereka bangga memiliki seorang anak perempuan, membuat mereka tidak akan merasa dikucilkan atau diremehkann orang lain dan mereka bisa mengangkat kepala mereka dengan tersenyum manis.

Dia terlahir sebagai anak sulung dari 2 bersaudara. Dia memilikik seorang adik laki-laki yang sangat keras kepala. Pada umumnya, seorang adik akan patuh kepada kakaknya, tetpai hal ini tidak berlaku kepadanya. Dia diajarkan untuk selalu mengalah kepada adiknya untuk menghindari pertengkaran dan keributan. Dia harus bisa mengikuti kemauan adiknya. Awalnya dia ada memiliki perasaan benci kenapa harus memiliki adik seperti itu, tapi akhirnya dia  bisa menerimanya juga. Dia menyadari kalau dia hanya memiliki seorang saudara kandung yang harus dia sayangi. Dia percaya kalau adiknya juga pasti menyayanginya walaupun dengan cara yang berbeda.

Pada waktu berusia 5 tahun, dia dudduk di bangku TK yang ada di kota kelahirannya, TK Cahaya. Sekolah tersebut ada di dekat rumahnya, sehingga orangtuanya tidak perlu terlalu memikirkannya. Dia tumbuh menjadi seorang gadis yang periang dan sangat patuh kepada orangtuanya. Setelah menyelesaikan pendidikannya di TK tersebut, kedua orangtuanya berencana untuk memasukkannya ke salah satu SD negeri yang ada di sana. Namun, hal tersebut tidak terwujud karena ada satu syarat yang tidak terpenuhi, yaitu umur harus genap 7 tahun. Kedua orangtuanya tidak ingin menyelohkannya tahun depan. Oleh karena itu, dia didaftarkan di salah satu SD swasta, SD.Sint.Yoseph. Sekolah dasar ini sangat terkenal dengan disiplinnya dan kebetulan juga sekolah ini dekat dengan rumahnya.

Tiga tahun pertama dia harus dititipkan di rumah suster yang berada satu lokasi dengan sekolah ketika sekolah telah berakhir. Dia akan dijemput setelah ibunya pulang dari kantor. Selama dia dititipkan di rumah suster, banyak sekali pelajaran dan pengalaman yang diperolehnya. Selama di sekolah tersebut, dia memang bukan murid yang selalu masuk ranking 10 besar, tetapi dia tidak pernah menyusahkan guru-gurunya.

Pada tahun 1999, dia bisa lulus dari sekolah dasar dengan nilai yang cukup memuaskan. Dia melanjutkan pendidikannya ke SMP yang masih terdapat di kota kelahirannya. Kedua orangtuanya mendaftarkan di sekolah negeri, SMP Negeri 1 Kabanjahe menjadi pilihannya. Sekolah tersebut merupakn sekolah terfavorit di daerah itu. Dia pun bisa masuk ke sekolah tersebut walaupun tidak bisa duduk di kelas unggulan. Awalnya, dia merasa agak sulit beradaptasi di sekolah negeri karena keadaanya benar-benar berbeda dengan sekolah swasta. Setelah beberapa bulan, dia bisa mengadaptasikan diri di sekolah tersebut. Dia mengikuti kegiatan ekstrakurikuler PKS ( Pembantu Keamanan Sekolah) dan tari, tapi tak ada satu pun yang bertahan lama.

Selama 3 caturwulan pertama, dia bisa masuk ke dalam ranking 10 besar di kelasnya. Hal ini membuatnya bisa menaikkan level dari kelas I-4 ke kelas II-2. Dia sangat menyukai pelajaran bahasa inggris, dan pelajaran eksakta khususnya matematika, fisika, biologi dan elektronika. Dia tidaklah terlalu populer di sekolahnya, tetapi dia memiliki banyak teman yang selalu menyukainya. Selama dudui di sekolah mengah pertama ini jugalah dia mengalamii puberitas seperti kebanyakan remaja lainnya untuk menyukai lawan jenisnya. Hanya saja mungkin dia terlalu berlebihan menyukai seorang cowok, dia melakukannya dengan sepenuh hati, walaupun cowok tersebut tidak memberikan respon. Semenjak itu, dia sangat sulit untuk menyukai cowok untuk kedua kalinya. Dia menyadari banyak kekurangan yang ada padanya, sehingga membuat dia tidak percaya diri.

Selain itu, dia juga tidak sama dengan teman-temannyayang bisa bersenang-senang setelah pulang dari sekolah. Dia harus membantu ibunya di kebun yang letaknya tidak jauh dari rumah dan dekat dengan kantor ibu. Di kebun itu , ibu menanam wortel, sawi, daun singkong, tomat, dll dalam jumlah yang tidak banyak. Walaupun tidak membantu ibu di kebun, dia harus menjual atau menghantarkan hasil panen kepada pelanggan-pelanggan ibu. Terkadang ada terbersit perasaan malu jika harus berpapasan dengan teman sekolah ketika dia harus menjinjing daun sinkong di kepalanya atau meneteh  2 kantong besar  wortel. Itu hanya terjadi sesaat saja, dia menyadari bahwa dia memang harus membantu kedua orangtuanya untuk bisa terus sekolah. Bapaknya memang terlihat jarang mengurus kebun kecil ini karena dia harus mengurus kebun yang satu lagi yang letaknya sangat jauh dari rumah.

Dalam waktu 3 tahun, dia dapat lulus dari SMP1 dengan nilai akhir yang cukup memuaskan. Pada tahun yang itu juga dia melanjutkan pendidikannya ke SMA. Awalnya dia merasa bingung untuk memilih antara SMA1 dan SMA2, karena pada saat itu hanya dua sekolah ini yang terbaik di daerah tersebut. Kedua orangtuanya menyerahkan semua keputusan di dalam tangannya. Dia tidak ingin salah dalam mengambiil keputusan, dengan dukungan dari seorang sahabat baiknya,  Fitri, akhirnya dia memutuskan untuk memilih SMA2. Dengan sangat mudah, dia pun masuk di kelas unggulan di sekolah tersebut. Inilah pertama kalinya dia dapat duduk di kelas unggulan selama dia bersekolah di negeri.

Semasa dia SMA sepertinya keadaan sudah berubah. Dia menjadi begitu populer di sekolahnya baik di kalangan guru-guru, siswa-siswa, dan bahkan orangtua para siswa. Hal ini sangat berbeda drastis ketika dia masih duduk di bangku SD dan SMP. Dia bisa populer karena prestasinya dan sifatnya yang rajin. Para guru dan temannya sangat percaya kepadanya.Walaupun begitu. dia tidak pernah sombong, dia selalu ceria, dan berteman dengan siapa saja. Dia memang memiliki sifat yang keras kepala dan agak sedikit pemaarah, tetapi teman-temannya tetap menyayanginya. Dia pernah menjadi juara III Olympiade Fisika sedaerahnya, hal ini sangat membanggakan kedua orangtuanya. Dia tidak akan melupakan senyum dan tawa orangtuanya setiap nama mereka dipanggil ke depan karena prestasi anaknya.

Saat SMA juga dia dapat diandalkan dalam kegiatan olahraga khusunya di bidang catur dan tarik tambang. Selain itu, dia juga sangat aktif dalam bidang keagamaan. Terkadang dia bahkan tidak melawan orangtuanya untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan rohani, karena dia berjanji tidak akan melakukan hal-hal yang dapat membuat mereka kecewa kepadanya. Dia juga dapat lulus dari SMA dengan hasil yang cukup memuaskan. Walaupun dia harus melewati ujian akhir sekolah dengan penuh dengan kekhawatiran dan perjuangan, karena pada saat bersamaan ibunyaharus diopname di RS. Elisabeth yang terdapat di Medan. Namun, berkat adanya pertolongan dari Tuhan semuanya dapat dilalui dengan baik.

Setelah lulus dari SMA pada tahun 2005, dia berkeinginan untuk melanjutkan pendidikannya ke salah satu universitas negeri. Dia pun mengikuti ujian SPMB dan dia berhasil lulus di UNIMED(Universitas Medan), beberapa hari kemudian dia juga dinyatakan lulusm masuk ke IPB oleh Pemda, tetapi tawaran ke IPB ditolaknya karena ada beberapa alasan. Dia pun mengurus semua syarat untuk masuk ke UNIMED. Selama 2 semester dia juga dapat memberikan prestasi yang membanggakjan kedua orangtuanya. Namun, karena ada beberapa kejadian akhirnya dia harus meninggalkkan universitas tersebut. Akibatnya, dia mengalami depresi hebat, dia mulai terlihat murung, dan menutup diri dari keluarga dan teman-temannya. Dia merasa malu akan dirinya sendiri.

Bapak tuanya (suami dari kakak ibunya) pun berinisiatif untuk mendaftarkannya sebagai CPNS di bidang kehakiman pada tahun tersebut (2007). Untuk itu, dia melakukan berbagai persiapan mulai dari diet, berlatih taekwando, lari jarak jauh, dan pastinya membahas soal-soal CPNS  dan pengetahuan umum. Persiapan ini dilakukannya hampir 1 tahun karena penguman penerimaan CPNS yang tidak pasti tanggalnya. Namun, semua usahanya sia-sia, karena tidak ada penerimaan CPNS untuk perempuan. Dia pun menjadi semakin terpuruk, semangatnya semakin hilang, dia bahkan mulai membenci dirinya sendiri. Dia juga merasa sangat sedih karena dia sudah menyulitkan kedua orangtuanya, tidak ada ceria lagi di wajah mereka.

Orangtuanya sangat mengerti keadaannya. Untuk mencegah hal yang lebih buruk, kedua orangtuanya pun menyetujui usul keluarga yang di Jakarta. Dia pun menyejui hal tersebut, karena dia sudah merasa benar-benar putus asa. Dia segera terbang ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya. Ternyata pada saat dia datang, sudah hampir semua universitas menutup pendaftaran mahasiswa baru. Jadi, hanya ada beberapa saja universitas yang didatanginya. Dia pun memilih Universitas Gunadarma tanpa disengaja, karena awalnya dia tak mengetahu sama sekali tentang universitas ini. Dia hanya mengikuti kata hati saja.

Ketika berjalan-jalan dengan keluarganya, dia melihat papan nama universitas ini di jalan Margoonda Depok. Semenjak kejadian itu, ada terpikir dibenaknya tentang universitas tersebut. Akhirnya, dia membuat keputusan untuk masuk ke universitas swasta ini. Pada saat mendaftar dia mengalami kebingungan untuk memilih fakultas dan jurusan, karena di tak mengerti tentang dunia komputer, dia benar-benar buta akan dunia tersebut. Tak pernah ada terlintas dibenaknya untuk masuk ke dalam bidang ilmu komputer. Dengan keyakinan dan pertimbangan, dia pun memilih jurusan Sistem Informasi ketika itu juga.

Awalnya dia merasa sangat sulit untuk mengikuti pelajaran dan lingkungan sekitarnya. Dalam selang beberapa bulan dia sudah mulai terbiasa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, Namun, dalam hal pelajaran semakin hari semakin banyak kendala yang dihadapinya. Dia terus berusaha sampai sekarang supaya dapat menyelesaikan pendidikannya. Walaupun terkadang ada perasaan iri di hatinya melihat teman-teman seangkatannya yang sudah lulus, bahkan ada yang sudah bekerja dan menikah. Dia tetap menguatkan dirinya untuk tetap semangat. Dia sangat percaya pasti ada rancangan terindah yang Tuhan berikan kepadanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: