Sekeping Uang Pembangkit Harapan

2 Jan

Pada suatu malam di bulan Desember 1956, Davis bocah berusia 3 tahun, sepupuku, meringkuk di dekat ibunya saat naik kereta api menuju Mahattan. Baru sat minggu yang lalu, mereka meninggalkan kehidupan sulit di Hungaria untuk memulai kehidupan baru di Amerika, di sebuah tempat bernama Brooklyn. Mereka sulit menyesuaikan diri dnegan mencolok. Namun, Amerika memberi mereka aset yang amat berharga, yakni harapan.

David duduk di dalam kereta yang bergeretak dan menekankan pipinya pada jendela yang dingin, mengagumi gedung-gedung bertingkat yang megah. “Selamat pagi”, kata seorang lelaki tua, membuyarkan lamunannya.  Lelaki tua yang berdiri dibelakangnya menggunakan jas wol dan topi yang terbuat daribulu binatang. Mata David terpesona dengan penampilan elegannya. Terlebih melihat mata ramahnya.

“Apakah Anda orang baru di negara ini?” Orang asing itu bertanya langsung kepada ayah David.

“Baru seminggu yang lalu kami tiba di negara ini”, jawabnya.

Orang asing itu membungkuku ke arah David, meyakinkan agar David juga ikut terlebih dalam percakapannya dalam orangtuanya. “Ketika pertama kali datang ke Amerika di akhir tahun 1800-an, aku masih bocah sepertimu.” Ia memandang mata David. “Saat aku sedang mendorong troli, seorang lelaki tua menghampiriku dan berkata bahwa ia juga beimigrasi ke Amerika Serikat ketika masih kecil. Ia menjelaskan kepadaku bahwa ia juga tidak punya uang satu sen pun. Kemudian orangtua itu mengeluarkansekeping uang dolar dan meletakkannya di tanganku. Katanya, “Ini, Nak, koin ini akan memberimu keuntungan dalam hidupku. Sekarang aku memberikannya kepadamu dan berharap koin ini juga akan memberimu keuntungan seperti yang dilakukannya kepadaku.”

Orang asing itu mendekatkan wajahnya ke David dan mengeluarkan sekeping uang dolla dari sakunya. “Ini koin yang diberikan bapak tua itu kepadaku. Koin ini telah memberiku keberunbtungan dan kemakmuran dalam banyak hal. Sekarang koin ini menjadi milikmu. Dan seperti yang diharapkan dariku, aku juga berharap koin ini dapat memberimu keberuntungan.” Lelaki tua itu membuka tangan David dan menaruh koin itu dengan menatap di telapak tangannya. David menutup telapak tangannya dan menggenggam koin itu erat-erat. Ia tahu bahwa ia akan menjaganya dalam waktu yang lama.

Keesokan harinya, David memeriksakoin itu di bawah cahaya mentari yang menerobos jendela. Ia memicingkan matanya agar dapat melihat koin itu dengan teliti dan sesuatu mengejutkannya, “Ini bukan koin biasa,” pikirnya. “Benar-benar dari tahun 1800-an! Tapi, koin ini berkilat seperti uang logam yang masih baru.”

Lebih dari 40 tahun berlalu sjak peristiwa penuh kenangan dikereta api. Remaja imigran kecil yang dulu ketakutan itu telah tumbuh menjadi seorang kaya. Ia dikaruniai perkawinana yang bahagia selama 35 tahun dan dikaruniai 4 anak yang semuanya sudah membangun keluarga masing-masing. David bersyukur atas keberuntungan itu, Ia tersenyum memandang cucu-cucunya yang dapat hidup berkecukupan, sesuatu yang tidak dapat ia dapatkan semasa kecilnya dulu. Semua harapan yang diberikan padanya di masa lalu telah terwujud.

David selalu menyimpan koin perak yang berharga itu. “Suatu hari nanti,” katanya kepada istrinya, “ketika aku sudah tua, aku akan mencari seorang anak kecil yang memegangi bau ibunya yang kuat, dikecam ketakutan untuk hidup di antara orang-orang asing di negeri yang asing pula. Aku akan mencari anakyang seperti itu dan meyakinkannya, seperti yang kualami dahulu, bahwa kehidupan masa depan memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan. Seperti  sekeping uang dollar dan kata-kata pengharapan yang menguatkan, yang telah diberikan kepadaku dan orang lain sebelumnya, aku juga akan memberinya kepada orang lain.”

–  Judith Levental –

Sumber: Gilts From The Heart of Love & Friendship

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: