Archive | December, 2009

Jenis-Jenis Paragraf

26 Dec

Paragraf dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok. Adapun pembagian kelompok ini dapat dilakukan berdasarkan:

1. Fungsinya dalam karangan

(1). Paragraf  pembuka

Paragraf pembuka merupakan bagian yang pertama kali akan ditemukan oleh pembaca. Oleh karena itu, suatu paragraf pembuka hendaknya:

  • Menghantar pokok pembicaraan
  • Tidak boleh terlalu panjang
  • Menarik minat dan perhatian pembaca
  • Menyiapkan pikiran pembaca untuk mengetahui seluruh isi karangan
  • Membimbing pembaca untuk memasuki permasalahan yang akan dibicarakan.

(2). Paragraf  isi

Suatu inti permasalahan atau ide pokok perlu dikembangkan agar menjadi konkret. Paragraf yang bertugas mengungkapkan ide pokok beserta pengembangnya / penjelasnya disebut paragraf isi (paragraf pengembang). Dalam paragraf isi akan dikemukakan apa yang menjadi inti persoalannya.

Paragraf isi merupakan bagian yang esensial. Oleh karena itu, penulis yang baik akan berhati-hati sekali dalam menyusun paragraf ini. Penulis akan memperhatikan kalimat-kalimat dalam paragraf yang dibuatnya dengan cermat dan teliti. Jika kalimat-kalimat tersebut belum disusun dengan runtut, dan belum sesuai dengan asas-asas penalaran yang logis , maka penulis harus merevisinya. Itulah yang perlu diketahui, bahwa karangan yang sampai dihadapan kita umumnya bukan hasil kerja sekali jadi, tetapi melalui proses perbaikan yang kadang-kadang tidak cukup satu atau dua kali.

Ada beberapa pola penyusunan kalimat-kalimat yang menjadi sebuah paragraf isi yang dapat dijadikan pedoman.

a. Pola Urutan Waktu

Dalam pola urutan waktu, penulis mengungkapkan gagasan-gagasannya secara kronologis. Dalam pola ini yang perlu diperhatikan adalah keruntutan pengungkapan gagasan, sehingga tidak ada hal yang terlewati, dan tidak terjadi pengurangan. Pola urutan waktu yang digambarkan sebagai berikut:

————————————————————————

——————————- Peristiwa 1 ————————————

——————————- Peristiwa 2 ————————————

——————————- Peristiwa 3, dsb——————————-

———————————————————————————–

Urutan waktu ini tidak selalu dinyatakan secara eksplisit dengan ungkapan penghubung waktu seperti contoh di atas, atau dengan keterangan waktu, tetapi dinyatakan juga secara implisit. Dalam hal ini pola urutan waktu hanya ditunjukan oleh pengungkapannya yang berturut-turut.

b.  Pola Runtutan Tingkat

Dalam pola urutan tingkat, penulis mengungkapkan gagasan mulai dari tingkat terendah sampai dengan yang tertinggi, dari kecil sampai dengan yang besar, dan sebagainya. Prinsipnya sama dengan pola urutan waktu, yaitu hendaknya tidak ada tingkatan yang terlewati atau terkurangi. Pola urutan tingkat dapat digambarkan sebagai berikut:

———————————————————————————————————— Tingkat 1 ———————————————————————- Tingkat 2 ———————————————————————- Tingkat 3, dsb —————————————————————————————————————–

c.   Pola Urutan Apresiatif

Pada pola urutan apresiatif, penulis akan mengungkapkan gagasannya berdasarkan, baik buruk, untung rugi, salah benar, berguna tidak berguna, dan sebagainya.Hal-hal yang buruk diungkapkan terlebih dahulu, lalu hal-hal yang baik; mula-mula diuraikan hal-hal yang merugikan, lalu hal-hal yang menguntungkan; mula-mula diuraikan hal-hal yang salah, lalu yang benar dan sebagainya. Urutan yang demikian itu tentu saja dapat dibalik. Hanya saja, yang penting ialah bahwa dalam pola ini arahnya kepada penghargaan suatu hal dengan menunjukan kelebihan dengan kekurangannya.

d.   Pola Urutan Tempat

Dalam pola urutan tempat, penulis mengungkapkan gagasannya mulai dari suatu tempat ketempat lainnya, misalnya dari atas ke bawah, dari dalam ke luar, dari kiri ke kanan, dan sebagainya. Urutan demikian dapat dikombinasikan dengan urutan berdasarkan tingkat pentingnya suatu tempat, dari tempat yang terpenting ke tempat yang penting sampai tempat yang kurang penting. Pola urutan tempat ini sangat ditentukan oleh sudut pandangan penulis.

e.   Pola Urutan Klimaks

Pola urutan klimaks ini hampir sama dengan pola urutan tingkat. Hanya saja, dalam pola urutan klimaks ini terkandung adanya intensitas yang semakin menaik, sedangkan dalam pola urutan tingkat tidak begitu ditonjolkan jadi, dalam pola urutan klimaks, penulis mengungkapkan gagasannya dengan urutan yang setiap kali semakin meningkat intensitasnya, dan berakhir pada gagasan yang paling intens.

(3). Paragraf  penutup

Setiap karangan jika pokok permasalahanya telah diungkapkan secara tuntas hendaknya ditutup dengan sepatutnya. Paragraf yang akan menutup atau mengakhiri suatu karangan disebut paragraf penutup. Paragraf ini merupakan kebulatan dari masalah-masalah yang dikemukakan pada bagian karangan sebelumnya. Oleh karena itu, paragraf penutup hendaknya memperkuat gagasan pokok, dan sekaligus menggambarkan isi karangan secara singkat.

Karena bertugas untuk mengakhiri suatu karangan, maka paragraf penutup yang baik ialah yang tidak terlalu panjang, tetapi tidak juga terlalu singkat. Sebagai ancar-ancar, bagian yang mengakhiri suatu karangan itusebaiknya kira-kira sepersepuluh dari bagian karangan sebelumnya. Hanya saja yang perlu diingat, bagian penutup ialah bagian yang terakhir sekali dibaca oleh pembaca kita. Oleh karena itu, bagian ini efektif jika pilihan kata, susunan kalimat, dan susunan alinea ini diolah sedemikian rupa, sehingga menjadi bagian yang paling berkesan pada diri pembaca.

Adapun paragraf yang akan menutup suatu karangan itu dapat berupa kesimpulan, ringkasan, penekanan kembali hal-hal yang penting, saran, dan harapan. Masing-masing penutup itu mempunyai ketepatan pemakaian yang berbeda. Kesimpulan tepatnya dipakai apabila dalam bagian-bagian karangan sebelumnya berupa premis-premis. Ada premis mayor, ada premis minor yang keduanya diatur sedemikian rupa, sehingga pada akhirnya ditutup dengan sebuah kesimpulan. Dalam hal ini, kesimpulan hendaknya bukan hanya barupa ulangan dari hal-hal yang sudah diungkapkan pada bagian karangan sebelunnya. Demikian pula penutup yang berupa saran, dan harapan hendaknya juga bukan merupakan apa yang sudah diungkapkan pada bagian karangan sebelumnya. Sebaliknya, alinea-alinea penutup yang berupa ringkasan, dan penekanan kembali hal yang penting justru mengulang secra singkat dan padat namun kalimat-kalimatnya hendaknya tidak sama dengan yang diulang. Kalimat-kalimat yang mengulang itu sebaiknya merupakan varian dari kalimat yang diulang dengan makna yang sama.

2. Posisi kalimat topiknya:

(1). Paragraf  deduktif. Paragraf deduktif memilki kalimat topik yang berada pada awal paragraf.

(2). Paragraf  induktif. Kalimat topik pada paragrf induktif berada pada akhir suatu paragraf.

(3). Paragraf  deduktif-induktif: kalimat topik di awal dan di akhir paragraf

(4). Paragraf  deskriptif dan naratif (Menyebar)

Paragraf deskriptif dan naratif adalah paragraf yang isinya penuh kalimat topik. Jenis paragraf ini tidak memiliki kalimat utama. Pikiran utamanya menyebar pada seluruh paragraf atau tersirat pada kalimat-kalimat penjelas.

3.  Sifat isinya:

(1). Paragraf  persuasi / persuatif

Paragraf persuasif adalah paragraf yang berisi tentang himbauan atau ajakan kepada orang lain untuk melakukan sesuatu. Agar hal yang disampaikan dapat mempengaruhi orang lain, maka harus disertai penjelasan dan fakta-fakta. Jadi, paragraf persuasif bersifat mempromosikan yakni dengan cara mempengaruhi pembacanya.

Susunan pembahasan yang tepat untuk paragraf persuasif adalah susunan logis dengan urutan sebab akibat, dimana pembaca akan langsung dihadapkan pada masalah yang sedang dibahas. Untuk itu, bahan yang diperlukan untuk menyusua paragraf ini diperolah melalui kegiatan pengamata, wawancara, dan penyebaran angket kepada responden. Pangambilan kesimpulan pada paragraf ini dapat dibuat jika data yang diperoleh sudah dianalisis terlebih dahulu.

(2). Paragraf  argumentatif / argumentasi

Paragraf Argumentasi adalah paragraf yang membuktikan kebenaran tentang sesuatu hal atau membahas suatu masalah dengan bukti-bukti. Dalam paragraf argumentasi, biasanya ditemukan beberapa ciri yang mudah dikenali. Ciri- ciri tersebut misalnya

  • ada pernyataan, ide, atau pendapat yang dikemukakan penulisnya;
  • alasan, data, atau fakta yang mendukung;
  • pembenaran berdasarkan data dan fakta yang disampaikan.

Dan tujuan yang ingin dicapai melalui pemaparan argumentasi ini adalah melontarkan pandangan / pendirian, mendorong atau mencegah suatu tindakan, mengubah tingkah laku pembaca, dan menarik simpati.

Data dan fakta yang digunakan untuk menyusun paragraf argumentasi dapat diperoleh melalui wawancara, angket, observasi, penelitian lapangan, dan penelitian kepustakaan. Dan pada akhir paragraf atau karangan, perlu disajikan kesimpulan. Kesimpulan ini yang membedakan argumentasi dari eksposisi.

(3). Paragraf  naratif / narasi

Narasi adalah cerita yang didasarkan pada urutan suatu kejadian atau peristiwa. Di dalam kejadian itu, ada tokoh atau beberapa tokoh yang mengalami suatu atau serangkaian konflik atau pertikaian. Kejadian, tokoh dan konflik ini merupakan unsur pokok sebuah narasi dan ketiganya secara kesatuan bisa disebut plot atau alur. Dengan demikian, narasi adalah cerita berdasarkan alur.

Untuk menunjukkan keterkaitan, hubungan dan urutan antara peristiwa atau proses dalam paragraf narasi ini , maka digunakan kata hubung antar kalimat; misalnya pertama, kedua,ketiga, keempat,seterusnya, selanjutnya, sesudah itu, berikutnya, dll.

Narasi bisa berisi fakta, fiksi atau rekaan. Narasi yang berisi fakta adalah biografi, otobiografi, kisah-kisah sejati, dan lain-lain yang bisa ditemukan di media massa. Narasi yang bersifat fiksi sering disebut cerita pendek, cerita bersambung, cerita bergambar, dan lain-lain.

(4). Paragraf  deskriptif  /deskripsi

Paragraf deskripsi adalah paragraf yang menggambarkan suatu hal dengan jelas dan terperinci. Paragraf ini bertujuan untuk melukiskan atau memberikan gambaran terhadap sesuatu dengan sejelas-jelasnya sehingga pembaca seolah-olah dpat melihat, mendengar, membaca, atau merasakan hal yang dideskripsikan tersebut.

(5). Paragraf  ekspositoris / eksposisi

Paragraf eksposisi merupakan sebuah paragraf yang berisi tentang paparan atau penjelasan. Jika ada paragraf yang menjawab pertanyaan apakah itu? Dari mana asalnya? Paragraf tersebut merupakan sebuah paragraf eksposisi.

Tujuan paragraf eksposisi adalah memaparkan atau menjelaskan sesuatu agar pengetahuan pembaca bertambah. Oleh karena itu, topik-topik yang dikembangkan dalam paragraf eksposisi berkaitan dengan penyampaian informasi. Berikut ini contoh – contoh topik yang dapat dikembangkan menjadi sebuah paragraf eksposisi, yaitu:

  1. Manfaat menjadi orang kreatif
  2. Bagaimana proses penyaluran bantuan langsung?
  3. Konsep bantuan langsung tunai.
  4. Faktor – faktor penyebab mewabahnya penyakit flu burung.

Dalam paragraf eksposisi, ada beberapa jenis pengembangan paragrafnya, antara lain adalah sebagai berikut:

  • Eksposisi definisi. Eksposisi defenisi menjelaskan tentang pengertian, definisi, arti dari suatu hal.
  • Eksposisi proses. Eksposisi proses akan menjelaskan tentang serangkaian tindakan, pembuatan, atau pengolahan suatu produk.
  • Eksposisi klasifikasi. Eksposisi klasifikasi merupakan penjelasan dari suatu objek dengan melakukan pengelompokkan berdasarkan atas ciri-ciri tertentu.
  • Eksposisi ilustrasi (contoh). Eksposisi ilustrasi keterangan tambahan berupa contoh, bandingan gambar, grafik dan sebagainya untuk memperjelas paparan. Jadi paragraf eksposisi ilustrasi adalah paragraf yng berupa keterangan tambahan yang memperjelas paparan atau eksposisi itu
  • Eksposisi perbandingan & pertentangan. Eksposisi perbandingan menjelaskan tentang persamaan atau perbedaan antara dua objek atau lebih. Sedangkan eksposisi pertentangan lebih mengarah ke dalam hal mempertentangkan objek-objek tersebut.
  • Eksposisi laporan. Eksposisi laporan menerangkan dan menjelaskan suatu hal seperti bentuk laporan.

**

* Penjelasan tentang paragraf . (klik di sini)

Sumber:

  1. http://readone82.blogdetik.com/2009/08/24/bentuk-dan-jenis-karangan/
  2. http://www.snapdrive.net/files/606250/Jenis%20Karangan.doc
  3. http://perpustakaan-online.blogspot.com/2008/04/paragraf-argumentasi.html
  4. http://perpustakaan-online.blogspot.com/2008/04/paragraf-eksposisi_14.html
  5. http://oke.or.id/wp-content/plugins/downloads-manager/upload/BI-paragraf-persuasif.pdf
  6. http://perpustakaan-online.blogspot.com/2008/04/paragraf-narasi.html
  7. http://www.perpustakaan-online.blogspot.com/2008/04/paragraf-deskripsi_14.html
Advertisements

Paragraf

26 Dec

Paragraf atau alinea adalah seperangkat atau sekumpulan kalimat yang berkaitan satu sama lain, membentuk satu kesatuan untuk mengungkapkan atau mengemukakan satu gagasan atau  ide pokok. Kalimat-kalimat tersebut harus tersusun secara logis dan runtun (sistematis), sehingga gagasan pokoknya dapat dikomunikasikan kepada pembaca secara efektif.

Paragraf mempunyai kesatuan pikiran yang luas dari beberapa kalimat. Meskipun demikian ada juga paragraf yang mempunyai hanya terdiri dari satu kalimat saja. Hal ini disebabkan oleh:

  1. Kurang dikembangkan oleh penulisnya.
  2. Sebagai peralihan antara bagian-bagian karangan.
  3. Dialog dalam narasi diperlakuan sebagai satu paragraf.

Paragraf juga merupakan suatu bagian dari bab (bagian terkecil) pada sebuah karangan atau karya ilmiah yang cara penulisannya harus dimulai dengan baris baru dan tulisan yang ditulis agak menjorok ke dalam .  Isinya membentuk satuan pikiran sebagai bagian dari pesan yang disampaikan penulis dalam karangannya.

Tujuan pembuatan paragraf adalah untuk memudahkan pengertian dan pemahaman terhadap satu tema dan memisahkan dan menegaskan perhentian secara wajar dan formal. Selain itu, paragraf juga memiliki fungsi utama yakni untuk menandai pembukaan atau awal ari gagasan atau ide baru, sebagai pengembangan lebih lanjut tentang ide sebelmnya, dan sebagai penegasan terhadap gagasan yang diungkapkan terlebih dahulu.

Dalam setiap paragraf harus didukung oleh unsur-unsur yang terdiri dari:

(a). Kalimat topik

Kalimat topik merupakan bagian terpenting yang berisi ide pokok atau  gagasan dalam suatu paragraf. Bagian ini mengarahkan dan sekaligus mengontrol pengembangan alinea Kalimat ini biasanya diletakkan pada awal paragraf, tetapi bisa juga diletakkan pada bagian tengah maupun akhir paragraf. Karena kalimat topik merupakan kalimat yang terpenting maka kalimat topik itu hendaknya:

  • Merupakan kalimat efektif yang menarik. Pengertian efektif pada kalimat efektif berarti membuahkan hasil. Hasil yang diharapkan dari suatu kalimat adalah pemahaman. Ditambahkan juga kata menarik, itu berarti bahwa kalimat topik hendaknya dapat memikat perhatian pembaca.
  • Merupakan susunan yang runtut dan logis
  • Merupakan rumusan yang tidak terlalu umum namun juga tidak terlalu spesifik.

Gagasan pokok yang terkandung dalam kalimat topik pada hakikatnya merupakan pengungkapan dari :

  1. ‘Apa yang akan dibicarakan’ dengan mengajukan pernyataan sehubungan dengan ‘apa yang dibicarakan’.
  2. Jawaban ringkas yang dapat dijadikan butir-butir pengembanganya. Adapun pertanyaan yang dapat diajukan itu ialah mengenai ‘bagaimana’. ‘mengapa’, dan pertanyaan lain yang relevan.
  3. Langkah selanjutnya adalah mengecek apakah butir-butir itu sudah lengkap ataukah masih ada yang terlewatkan, dan kemudian menyusun kembali butir-butir itu dalam susunan yang dipandang paling tepat.

(b). Kalimat penjelas

Kalimat penjelas atau kalimat pendukung atau kalimat pengembangan berfungsi untuk menjelaskan, mendukung, dan menguraikan ide utama atau kalimat utamanya. Ciri-ciri kalimat penjelas ini adalah

  1. Pada umumnya merupakan kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri
  2. Arti kalimatnya baru akan terlihat jelas, setelah dihubungkan dengan kaliamt lain dalam satu alinea.
  3. Pembentuknya sering memerlukan bantuan kata sambung atau frasa penghubung atau kata transisi.
  4. Isinya berupa rincian, keterangan, contoh, dan data lain yang bersifat mendukung kalimat topik.

(c). Kalimat penutup

Setelah pengembangan kalimat itu sampai pada batas kecukupan, maka paragraf itu sebaiknya segera diakhiri. Kalimat yang mengakhiri paragraf itu disebut kalimat penutup. Demi terwujudnya kesatuan gagasan dalam paragraf tersebut, penyusunan kalimat penutup ini hendaknya harus ditulis berdasarkan kalimat-kalimat pengembang / penjelasnya. Kalimat penutup biasanya dapat berupa penekanan kembali, kesimpulan dan rangkuman.

Selain memperhatikan unsur-unsur, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam membuat suatu paragraf, yaitu:

(1). Memiliki kepaduan paragraf atau koherensi. Koherensi adalah adanya keterpaduan atau hubungan antara kalimat dengan kalimat dalam paragraf tersebut. Keterpaduan tersebut dapat dibangun dengan memperhatikan:

–          Unsur kebahasaan

  1. Repetisi. Repitisi merupakan pengulangan kata-kata yang dianggap cukup penting atau menjadi topik pembahasan.

Contoh : Banjir adalah aliran yang deras di sungai. Banjir disebabkan oleh pendangkalan sungai.

  1. Kata Ganti.  Kata yang dipakai untuk menggantikan subyek pembicaraan.

Macam-macam kata ganti :

  1. Kata ganti orang pertama (I) : aku, saya, ku,
  2. Kata ganti orang kedua (II) : kamu, mu, kamu sekalian,
  3. Kata ganti orang ketiga (III) : Anda, Dia, Beliau,mereka, nya.

Contoh: Ani dan Tini kuliah di UI. Mereka sering berangkat bersama.

  1. Kata transisi.  Kata transisi adalah kata yang berada di antara kata ganti dan kata repetisi. Kata transisi sering dikatakan atau dikenal sebagai kata penghubung atau kata hubung.

Ada 2 macam kata transisi / kata penghubung, yaitu :

– Kata transisi / kata hubung intrakalimat adalah kata yang menghubungkan anak kalimat dan induk kalimat. Contohnya: karena, sehingga, tetapi, sedangkan, apabila, jika, maka,dll

– Kata transisi / kata hubung antarkalimat adalah kata  yang menghubungi kalimat satu dengan kalimat lainnya. Contohnya: oleh karena itu, jadi, kemudian, namun, selanjutnya, bahkan, dll.

–          Perincian dan urutan isi paragraf :

  1. urutan waktu
  2. urutan logis
  3. urutan ruang
  4. urutan proses
  5. sudut pandangan/ point of view

(2). Memiliki kesatuan paragraf. Maksud dari pernyataan ini adalah dalam satu paragraf hanya terdapat satu gagasan pokok saja untuk merangkai kesuluruhan tulisan. Dengan kata lain, semua kalimat dalam paragraf  itu secara bersama-sama mendukung satu ide atau gagasanpokok saja.

(3). Memiliki kelengkapan paragraf. Paragraf dikatakan lengkap, jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup untuk menunjang kejelasan kalimat topik/ kalimat utama dalam paragraf.

**

* Jenis-jenis paragraf  (klik di sini)

* Penjelasan kalimat. (klik di sini)

Sumber:

  1. http://free.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Indonesia/0516%20Ind%208j.htm
  2. http://pksm.mercubuana.ac.id/new/elearning/files_modul/99009-8-555911592468.doc
  3. http://www.bisnet.or.id/vle/file.php?file=%2F145%2FParagraf_dan_Jenis_Karangan.ppt
  4. http://www.smak2.com/index.php?view=article&catid=7%3Apeople-profile&id=49%3Abu-jekti-tertambat-pria-romantis&format=pdf&option=com_content&Itemid=12
  5. http://organisasi.org/pengertian_paragraf_alinea_dan_bagian_dari_paragraf_bahasa_ indonesia

Pengaruh Bahasa Inggris Terhadap Kosa-Kata Bahasa Indonesia

24 Dec

Kata serapan dalam bahasa atau lebih tepatnya antar bahasa adalah merupakan suatu hal yang lumrah. Setiap kali ada kontak bahasa lewat pemakainya pasti akan terjadi serap menyerap kata. Unit bahasa dan struktur bahasa itu ada yang bersifat tertutup dan terbuka bagi pengaruh bahasa lain. Tertutup berarti sulit menerima pengaruh, terbuka berarti mudah menerima pengaruh. Bunyi bahasa dan kosa kata pada umumnya merupakan unsur bahasa yang bersifat terbuka. Oleh karena itu, dalam kontak bahasa akan terjadi saling pengaruh, meminjam atau menyerap unsur asing dengan sendirinya

Tidak ada dua bahasa yang sama persis apalagi bahasa yang berlainan rumpun. Dalam proses penyerapan dari bahasa pemberi pengaruh kepada bahasa penerima pengaruh akan terjadi perubahan-perubahan. Ada proses penyerapan yang terjadi secara utuh, tetapi ada juga proses penyerapan yang terjadi dengan beberapa penyesuaian baik  dalarn bahasa lisan maupun bahasa tulisnya.

Bahasa Indonesia dari awal pertumbuhannya sampai sekarang telah banyak menyerap unsur-unsur asing terutarna dalam hal kosa kata. Bahasa asing yang memberi pengaruh kosa kata dalam bahasa Indonesia antara lain : bahasa Sansekerta, bahasa Belanda, bahasa Arab dan bahasa Inggris. Masuknya unsur-unsur asing ini secara historis juga sejalan dengan kontak budaya antara bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa pemberi pengaruh. Mula-mula bahasa Sansekerta sejalan dengan masuknya agama Hindu ke Indonesia sejak sebelum bahasa Indonesia memunculkan identitas dirinya sebagai bahasa Indonesia, kemudian bahasa Arab karena eratnya hubungan keagamaan dan perdagangan antara masyarakat timur tengah dengan bangsa Indonesia, lalu bahasa Belanda sejalan dengan masuknya penjajahan Belanda ke Indonesia, kemudian bahasa Inggris yang berjalan hingga sekarang, salah satu faktor penyebabnya adalah semakin intensifnya hubungan ilmu pengetahuan dan teknologi antara bangsa Indonesia dengan masyarakat pengguna bahasa Inggris.

Unsur-unsur asing ini telah menambah sejumlah besar kata ke dalam bahasa Indonesia sehingga bahasa Indonesia mengalami perkembangan sesuai dengan tuntutan zaman. Dan sejalan dengan perkembangan itu muncullah masalah-masalah kebahasaan, khususnya penyerapan kata-kata bahasa Inggris.

Ada dua cara penyerapan kata-kata dan ungkapan-ungkapan dari bahasa inggris ke dalam bahasa Indonesia. Cara pertama adalah dengan menyerap secara seluruhnya, baik dalam ejaan maupun pada ucapannya. Cara kedua adlah dengan menyesuaikan ejaan maupun ucapannya. Penyerapan dengan [enyesuaian pada umumnya mengacu pada ucapan kata aslinya. Dengan demikian akan terjadi  dalam ejaannya, diselaraskan dengan kaidah bahasa Indonesia.

Berikut ini dapat dilihat beberapa macam pola penyerapan kata-kata dalam bahasa inggris ke dalam bahasa Indonesia.

1. Kata-kata dalam bahasa Inggris yang berawal dengan huruf C,Ch, dan Q.

Contoh:

Inggris Ucapan Indonesia
Certificate Se(r)tifikeit Sertifikat
Censor Sensor Sensor
Canteen Kantiin Kantin
Corruption Korapsien Korupsi
Check Cek Cek
Charter Carter Carter
Chocolate Cokeleit Coklat
Character Karakte(r) Karakter
Quality Kwoliti Kualitas
Quantity Kwontiti Kuantitas
Quota Kwota Kuota
Quiz Kwiz Kuiz

2. Suku kata bahasa inggris yang berakhir dengan “-tion” dan “-sion”, berubah menjadi “-si

Contoh:

Inggris Indonesia Arti
Adoption Adopsi Mengangkat(anak)
Association Asosiasi Himpunan,ikatan
Attension Atensi Perhatian
Calculation Kalkulasi Perhitungan
Combination Kombinasi Kumpulan
Condition Kondisi Keadaan
Deportasion Deportasi Pengusiran WNA dari suatu Negara
Discussion Diskusi Pembicaraaan
Deviation Deviasi Penyimpangan
Emotion Emosi Perasaan
Vibration Vibrasi Getaran
Transportstion Transportasi Pengangkutan
Suggestion Sugesi Dorongan jiwa

3. Kata-kata dalam bahasa Inggris yang mempunyai suku-kata akhir “-ty” akan berubah menjadi “-tas” dalam bahasa Indonesia.

Contoh:

Inggris Indonesia Arti
Activity Aktivitas Kegiatan
Facility Fasilitas Sarana
Integrity Integritas Sifat jujur
Priority Prioritas Yang diutamakan
Quality Kualitas Mutu
Reality Realitas Kenyataan
University Universitas Perguruan tinggi

Namun,  hal ini tidak berlaku untuk kata:

Inggris Indonesia Arti
Comodity Komoditi Barang dagangan
Penalty Penalty Hukuman
Royalty Royalty Pembayaran kepada pemegang hak cipta.

4. Kata-kata dalam bahasa Inggris mempunyai suku kata akhir “-nt” akan berubah menjadi “-n” dalam bahasa Indonesia

Contoh:

Inggris Indonesia Arti
Argument Argument Bantahan
Component Komponen Bagian dari suatu alat
Dominat Dominan Unggul
Element Elemen Unsure
Patent Paten Hak paten
Statement Statemen pernyataan

Namun, Hal ini tidak berlaku untuk kata-kata berikut:

Inggris Indonesia Arti
Comment Komentar Pendapat
Investment Investasi Penanaman modal
Argument Argumentasi/argument sanggahan

5. K ata-kata dalam bahasa Inggris mempunyai suku kata akhir “-ism” akan berubah menjadi “-isme” dalam bahasa Indonesia.

Contoh:

Inggris Indonesia Arti
Antogonism Antagonism Bertentangan
Dualism Dualism Bersifat men-dua
Egoism Egoism Mementingkan diri sendiri
Organism Organism Mahluk hidup
Optism Optismisme Rasa percaya diri yang kuat

6. K ata-kata dalam bahasa Inggris mempunyai suku kata akhir “-ive” akan berubah menjadi “-if” dalam bahasa Indonesia.

Contoh:

Inggris Indonesia Arti
Aggressive Agresif Galak
Attracktive Atraktif Menarik
Competitive Kompetitif Bersaing
Destructive Destruktif Bersifat merusak
Negative Negatif Kurang,buruk
Selective Selectif Pilih-pilih

7. K ata-kata dalam bahasa Inggris mempunyai suku kata akhir “-nal” akan berubah menjadi “-nal” dalam bahasa Indonesia, namun ejaan keseluruhan berubah sesuai dengan ucapannya.

Contoh:

Inggris Indonesia Arti
Emotional Emosional Perasa
Functional Fungsional Berkenaan dengan kerjanya dan tugasnya
Rational Rasional Masuk akal
Proportional Proporsional Sebanding,sesuai
Traditional Tradisional Adat,kebiasan

8. K ata-kata dalam bahasa Inggris mempunyai suku kata awal “ph-” sesuai dengan ucapannya menjadi  “f-“  dalam bahasa Indonesia.

Contoh:

Inggris Indonesia Arti
Phantom Fantom Tiruan,ilusi
Phenomena Fenomena Peristiwa yang hebat
Phrase Frasa Untaian kata
Physics Fisika Ilmu fisika
Physiologi Fisiologi Ilmu  faal

9. K ata-kata dalam bahasa Inggris mempunyai suku kata awal “th-” akan berubah menjadi “t-” dalam bahasa Indonesia.

Contoh:

Inggris Indonesia Arti
Theatre Teater Gedung pertunjukkan
Theme Tema Pokok bahasan
Therapy Terapi Pengobatan
Thermometer Thermometer Alat pengukur suhu

10. K ata-kata dalam bahasa Inggris mempunyai suku kata akhir “-y” akan berubah menjadi “-i” dalam bahasa Indonesia.

Contoh:

Inggris Indonesia Arti
Anarchy Anarki Kekacauan
Biography Biografi Riwayat hidup
Calligraphy Kaligrafi Seni menulis indah
Planology Planologi Ilmu tata kota
Pathology Patologi Ilmu tentang  penyakit
Subsidy Subsidi Bantuan berupa uang

11. Akhiran suku-kata “-ic” dalam bahasa Inggris dapat menjadi beberapa bentuk.

Contoh:

Inggris Indonesia Arti
1.Athelete

Athletic

Athletics

Atlit

Atletis

Atletik

Olahragawan

Sifat badan yang kokoh

Cabang olah raga atletik

2. Fantasy

Fantasia

Fantastic

Fantasi

Fantasia

Fantastis

Khayalan

Karya seni penuh fantasi

Sesuatu yang menakjubkan

3. Mechanic

Mechanism

Mechanical

Mekanik

Mekanisme

Mekanis

Montir

Tata cara kerjanya

Berkaitan dengan mesin

4. Politics

Political

Politic

Ilmu politik

Politis

Politik

Ilmu tentang tata-cara mengelola negara

Berkaitan dengan politik

Berkaitan dengan pemerintahan

12. Kata-kata dalam bahsa Inggris yang berawal dengan huruf C dapat berubah menjadi S, K, atau diawali dengan huruf C dalam bahasa Indonesia, sesuai dengan ucapannya.

Contoh:

Inggris Indonesia Arti
Ceremony Seremoni Upacara
Celebrity Selebriti Boring-orang terkenal
Circuit Sirkuit Tempat balapan mobil
Chaotic Keiotik,keiotis Berantakan
Check Cek Memeriksa
Café Kafe Semacam kedai atau restoran
Campus Kampus Lingkungan perguruan tinggi
Career Karir Pekerjaan
Clarification Klarifikasi Penjelasan

Kata-kata serapan memang menambah pembendeharaan kosa-kata bahasa Indonesia. Namun, penyerapan atau peminjaman kata-kata asing tersebut juga akan menimbulkan kerancuan, keragu-raguan, atau kekeliruan.

Contoh:

(a)   Akses dan Ekses

Dua kata ini memiliki kemirpan dalam ejaannya, tetapi memiliki arti yang berbeda.

ð>  Akses berasal dari access yang berarti jaln penghubung, kemudahan untuk mendapatkan sesuatu, kemudahan untuk menemui seseorang.

ð>  Ekses berasal dari kata Excess yang berarti berlebihan atau kelebihan, lebih dari seharusnya, perilaku yang melanggar moralitas dan kemanusiaan.

(b)  Even dan Event

ð>  Kata even memiliki  arti rata, datar, genap, ama, bahkan.

ð>  Kata Event mengandung arti pertistiwa,kejadian,pertandingan.

(c)   Moment atau momen dan momentum

ð>  Moment atau momen berkaitan dengan waktu

ð>  Momentum berkaitan dengan gerak, dorongan, dan kekuatan.

(d)   Reformasi dan Anarki

ð>  Reformasi berasal dari kata to reform yang berarti memperbaiki (menjadi lebih baik). Namun, reformasi juga berarti perbaikan dalam tatanan social, politik, pemerintahan, dll.

ð>  Anarki berasal  dari kata anarchy berarti kekacauan. Selain itu, anarki juga mengabaikan atau tidak mengakui adanya hokum peraturan dan kekuasaan pemerintah.

Dari penjelasan tersebut, jelaslah bahwa anarki bertentangan dengan reformasi dan bukan bagian dari reformasi.

(a)   Legal dan Legimate

Dalam bahasa Indonesia, kedua kata ini memiliki arti sah (sah menurut hukum atau konstitusi).  Lawan kata legal adalah illegal atu illegal, sedangkan lawan kata dari legitimate adalah illegitimate.

ð>  Legal biasanya berkaitan dengan hokum, misalnya pemalsuan ijazaah adalah perbuatan illegal.

ð>  Kata legitimate biasanya digunakan untuk pemerintahan, misalnya pemerintah yang legitimate merupakan pemerintahan yang dipilih oleh rakyat.

(b)   Kerancuan dalam proses penyerapan

ð>   Pada harian Pikiran Rakyat yang terbit tanggal 18 November 2000, pada halaman 4 (empat) terdapat judul berita sebagai berikut : “Karetaker Gubernur Banten Hari ini Dilantik Mendagri”.  Kata caretaker dipakai sebagai pengganti  caretaker (baca:keteike) yang artinya pejabat sementara. Penyerapan seperti ini jelas tidak benar.

ð>  Akhir-akhir ini banyak pejabat atau petinggi Negara menggunakan gabungan kata”kebohongan politik”. Bandingkan dengan kata-kata berikut:

–          Public opinion = opini pubic =pendapat umum.

–          Public figure = tokoh public = tokoh masyarakat.

Jadi, kata “kebohongan publik” = public lie = kebohongan rakyat. Namun, rakyat berbohong kepada siapa?  Agar tidak menimbulkan kerancuan, sebaiknya kata tersebut dinyatakan berbohong kepada rakyat atau tidak mengatakan yang sebenarnya kepada rakyat.

(c)   Okay

Dalam bahasa Inggris kata ‘okay’ berarti ‘lumayan’, ‘cukuo baik’, atau ‘saya setuju’, tergantung dengan konteks .

ð>   A: Why don’t we go to shop?     ==>   A: Anda ingin ke toko?

B: Okay                                                           B: Oke

Dalam konteks ini kata okay dan oke mengandung arti yang sama.

ð>  Oh, that place is okay I guess.  ==>     Tempat itu lumayan menurut indah menurut saya.

Dalam konteks ini arti dari kata ‘okay’ dan ‘oke’ berbeda. Sejak kata ‘oke’ masuk bahasa Indonesia artinya sudah berubah terlalu jauh untuk digunakan untuk terjemahan langsung dalam contoh ini.

ð>   Who okayed this deal?  ==>         Siapa yang menandatangani persetujuan ini?

Pennggunaan ‘okay’ ini belum terbiasa dalam bahasa Inggris, jadi tidak aneh bahwa artinya tidak ada dalam bahasa Indonesia.

Dari contoh di atas, dapat diketahui ada terdapat perbedaan di antara ‘oke’ dan ‘okay’. Kata ‘oke’ dapat diartikan ’saya dapat’  atau  ‘unggul’ tidak ada dalam bahasa Inggris. Contoh penggunaannya dapat dilihat dalam slogan stasiun televise RCTI, ‘Semakin Oke”. Jika kata ‘oke’ masih ada artinya sama dengan kata ‘okay’ dalam bahasa Inggris, penggunaan ini tidak mungkin, karena tidak ada kampanye iklan yang harap meyakinkan penontonnya bahwa acaranya “semakin lumayan”.

Dari beberapa  contoh di atas terlihat jelas bahwa bahasa Inggris sangat mempengaruhi pemakaian kosa-kota dan bahkan struktur bahasa  Indonesia. Banyak kata yang mengalami perubahan. Perubahan-perubahan yang terjadi terkadang dapat  menimbulkan kerancuan dalam pemakaiannya. Bahkan, pemakaian bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sering digabungkan dalam satu rangkaian kalimat. Hal ini terjadi  supaya  orang yang menggunakannya akan terlihat lebih modern.

Penyerepan kosa-kata tersebut dapat menambah pembendaharaan kosa-kota Indonesia. Hal ini sudah tentu akan mempermudah kita  berinteraksi  khususnya kepada negar-negara lain. Namun.penyerapan kosa-kota  tersebut  jangan diterima  begitu saja. Dalam proses penyerapan harus dapat dilakukan dengan selektif, supaya karakteristik dari bahasa Indonesia tidak akan hilang.

Sumber:

  1. Dokter Sayoga,M.Sc, “Pengaruh Bahasa  Inggris pada  Pembentukan Kosa-Kata  Baru Berbahasa Indonesia,2001, CV.Angkasa:Bandung.
  2. pengaruh-bahasa-inggris-di-dalam-budaya        (http://wiwan-manusiabiasa.blogspot.com/2009/10/pengaruh-bahasa-inggris-di-dalam-budaya.html)
  3. Hubungan bahasa2 di malang pengaruh bhs ingris terhadap bahasa Indonesia pemuda(http://www.acicis.murdoch.edu.au/hi/field_topics/nickheaney.pdf)

Sentuh Bahasa

24 Dec

Sentuh bahasa atau kontak bahasa terjadi karena adanya masyarakat yang bertemu, dan hidup bersama-sama, sehingga berpengaruh terhadap masyarakat bahasa lain. Ciri yang paling menonjol dari sentuh bahasa ini adalah terdapatnya kedwibahasaan (bilingualism) atau keanekabahasaan (multilingualism).

Lebih dari setengah penduduk dunia adalah dwibahasawan atau dengan kata lain sebagian besar manusia di bumi ini menggunakan dua bahasa sebagai alat komunikasi. Misalnya saja bangsa Indonesia yang cenderung menguasai dua bahasa atau lebih.  Bahasa Indonesia digunakan apabila mereka berkomunikasi antarsuku, sedangkan jika berada di dalam lingkungan keluarga atau sukunya, mereka berkomunikasi dengan bahasa daerahnya masing-masing seperti  bahasa Aceh, Melayu, Sunda, Jawa, Madura, Bali,  Bugis dan sebagainya.

Kedwibahasaan

Pengertian kedwibahasaan bersifat relatif  dan merentang dari ujung yang paling ideal, sampai ke ujung yang minimal. Pengertian itu berkembang mengikuti tuntutan situasi. Ada beberapa pengertian kedwibahasaan, antara lain:

  1. Menurut Leonard Bloomfield (1993), kedwibahasaan merupakan ‘penguasaan (seseorang) yang sama baiknya atas dua bahasa (oleh seseorang) secara bergantian’.
  2. Uriel Weinreich (1968) kedwibahasaan diartikan sebagai ‘pemakaian dua bahasa (oleh seseorang) secara  bergantian’.
  3. Einar Haugen (1966) mengartikan kedwibahasaan sebagai ‘kemampuan (seseorang) menghasilkan tuturan yang lengkap dan bermakna dalam bahasa lain’.
  4. Dalam KBBI,  kedwibahasaan adalah  perihal pemakaian dua bahasa (seperti bahasa daerah di samping bahasa nasional)

Perbedaan pengertian kedwibahasaan ini disebabkan oleh sukarnya membuat batasan seseorang menjadi dwibahasawan. Batasaan kedwibahasaan tersebut dapat mencakup: ‘penguasaan sepenuhnya atas dua bahasa’ atau hanya sebatas ‘pengetahuan minimal akan bahasa yang kedua’. Seberapa jauh penguasaan seseorang atas kedua bahasa ini tergantung kepada seberapa sering dia menggunakan bahasa kedua itu.

Bloomfield pun mengungkapkan terdapat beberapa alasan yang mengacu pada segi kelemahan definisi kedwibahasaan itu sendiri, antar lain:

  1. Mengenai penguasaan bahasa yang kedua seperti penguasaan bahasa pertama.
  2. Mengenai taraf kemampuan menguasai bahasa hukum secara sempurna.
  3. Mengenai perbandingan kemampuan seseorang dalam menggunakan dua bahasa yang berlainan.

Pengaruh  Kedwibahasaan

1. Alih Kode

Penguasaan atas dua bahasa tersebut akan mempengaruhi diri seseorang pada saat dia berbicara.  Kelancarannya bertutur dalam tiap-tiap bahasa membuatnya dapat mempergunakan bahasa yang dikuasainya secara bergantian. Hal seperti ini sering juga disebut dengan alih kode (code-switching).  Contoh  dari alih kode ini dapat disajikan dalam dialog berikut:

Esih     :  San, kemarin saya tunggu sampai satu jam, tapi kamu tidak datang.

Aduh, nyeri  hati pisan! Kalau tidak bisa datang tidak usah janji.

Santa  : Ya, Esih. Makanya sekarang saya datang untuk minta maaf. Punten pisan! Seueur pisan tamu di rorompok.

Dari dialog singkat diatas , pembicaraan yang berlangsung mempergunakan bahasa Indonesia dan bahasa Sunda secara bergantian.  Penggunaan bahasa yang bergantian ini terjadi  karena pembicara sedang berlatih menggunakan suatu bahasa tertentu atau kurangnya kosa kata atau istilah dalam salah satu bahasa yang dikuasainya untuk mengungkapkan maksudnya.

2. Interferensi

Interferensi (Interference) adalah penyimpangan dari kaidah bahasa sebagai akibat dari pengaruh penguasaan seorang dwibahasawan terhadap bahasa lain. Interferensi dapat terjadi pada tingkat tata bunyi, tata bahasa, atau leksikon.  Contoh interferensi adalah:

1. Orang Sunda dalam berbahasa Indonesia, sering mengucapkan fonem /f/ dan /v/ menjadi /p/. Misalnya:

Pasif      =>   Pasip                  Kreatif    => Kreatip                       Fakultas     => Fakultas

Variasi  =>  Pariasi               Variable => Pariabel                     November => Nopember

2. Orang  toba sering mengucapkan fonem /a/ atau pepet menjadi /e/ atau taling, misalnya pada kata beberapa, teman, telah, senang, perlu, beras, sekali.

3. Orang  Jawa sering mempergunakan struktur kalimat bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia, misalnya:

Ning kene toko Laris sing larang dhewe   =>  Di sini toko Laris yang mahal sendiri.

Kata sendiri diterjemahkan dari kata dhewe, yang dalam bahasa Jawa memiliki arti “sendiri”. Namun, kata dhewe yang terdapat di belakang kata sing dan kata sifat berarti “paling”. Jadi dalam bahasa Indonesia yang baku, kalimat tersebut sbenarnya berbunyi :

=>  Toko Laris adalah toko yang paling mahal di sini.

3. Integrasi

Integrasi dibedakan dari Interferensi . Integrasi merupakan pemakaian  unsur-unsur peminjaman dari bahasa lain dan dianggap bukan sebagai unsur  pinjaman atau dengan kata lain sudah menjadi bagian dari bahasa Indonesia sendiri.  Tapi proses dari integrasi sangat membutuhkan waktu yang lama, karena tidak setiap kata atau unsur dari bahasa lain dapat langsung disadur / dimasukkan ke dalam pembendeharaan bahasa Indonesia.

Unsur pinjaman ini awalnya dipergunakan oleh sebahagian kecil masyarakat yang menguasai bahasa yang  bersangkutan. Jika peminjaman unsur ini dapat diterima oleh masyarakat umum maka aka nada penyesuaian tata bunti dan tata kata.

Misalnya:

Monteur            =>  Montir                                  Research     => Riset

Electrification => Elektrifikasi                        Corruption   => Korupsi

Sumber:

http://pendidikan-tuban.org/bse/BSE%20SMA-MA,SMK/44.%20Akitf%20dan%20Kreatif%20Berbahasa%20Indonesia%20Kelas%20XI%20Bahasa-Sastra/08-Pel%206.pdf

http://www.um-pwr.ac.id/web/artikel/390-bahasa-indonesia-antara-variasi-dan-penggunaan.html

*  Kherul Matein, “Bahan Ajar Analisis Kesalahan Berbahasa”, Probolinggo

*  Kushartanti, Untung Y, Multamia RMt, “Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik”, 2005, Jakarta: Gramedia.

Kalimat Efektif

24 Dec

Kalimat efektif adalah kalimat yang mampu dan berhasil menyampaikan pikiran, gagasan,dan perasaan penulisnya dengan jelas kepada pembaca.

Ciri-ciri kalimat efektif :
1.Kesatuan gagasan. Kalimat efektif harus mempunyai subyek, predikat, dan unsur-unsur lain yang akan  mendukung kesatuan tunggal dari kalimat. Struktur kalimat juga harus benar.
2.Kesejajaran. Kata kerja dalam kalimat harus memiliki bentukan yang sama. Jika kata kerja sudahmenggunakan imbuhan me- maka bagian kalimat yang lainherusmenggunakan imbuhan me-.
3. Kehematan. Kalimat harus dibentuk dengan menggunakan kata-kata yang tepat dan menghindari kata-kata yang tidak perlu dan berlebih.
4. Kelogisan. Kalimat yang efektif sudah pasti akan mudah dipahami oleh para pembacanya.
5. Ejaan yang dipergunakan dalam kalimat efektif juga harus benar.

Latihan tentang kalimat efektif:

1. Saya sudah katakan  bahwa berbahasa Indonesia dengan baik, dan benar itu tidak mudah

Kalimat efektifnya:

–          Saya sudah mengatakan bahwa  berbahasa Indonesia dengan  baik, dan benar itu tidak mudah.

2.Dari hasil penelitian laboratorium kriminal membuktikan bahwa pelaku pengeboman itu seorang wanita

Kalimat efektifnya:

–          Hasil penelitian laboratorium kriminal membuktikan bahwa pelaku pengeboman itu adalah seorang wanita.

3. Berdasarkan pengarahan pimpinan mengatakan bahwa penerimaan mahasiswa baru dapat dilaksanakan sacara bertahap

Kalimat efektifnya:

–          Berdasarkan pengarahan pimpinan, penerimaan mahasiswa baru dapat dilaksanakan secara bertahap.

–          Pimpinan mengarahkan supaya penerimaan mahasiswa baru dapat dilaksanakan secara bertahap.

4. Meskipun kita tidak menghadapi musuh, tetapi kita harus selalu waspada

Kalimat efektifnya:

–          Kita harus waspada, meskipun kita tidak menghadapi musuh.

–          Kita tidak menghadapi musuh, tetapi kita harus waspada.

5. Menjawab pertanyaan wartawan pejabat itu mengatakan dengan tegas

Kalimat efektifnya:

–          Pejabat itu menjawab pertanyaan wartawan dengan tegas.

–          Pertanyan wartawan dijawab dengan tegas oleh pejabat itu.

6.  Mahasiswa Gunadarma yang sering tampil menjadi teladan

Kalimat efektifnya:

–          Mahasiswa Gunadarma sering tampil menjadi teladan.

–          Mahasiswa Gunadarma  yang sering  tampil dijadikan sebagai teladan.

7. Tahap awal penyusunan skripsi adalah penentuan topik  pengumpulan data untuk penyusunan kerangka

Kalimat efektifnya:

–          Tahap-tahap  penyusunan skripsi adalah penentuan  topik,  pengumpulan data , lalu penyusunan  kerangkanya.

–          Penyusunan skripsi  diawali dengan penentuan topik, kemudian pengumpulan data dan penyusunan kerangkanya.

8.  Hasil daripada penjualan saham akan digunakan untuk modal usaha

Kalimat efektifnya:

–          Hasil dari penjualan saham akan digunakan untuk modal usaha.

–          Hasil penjualan saham akan digunakan untuk modal usaha.

9. Saya keberatan jika harus mencantumkan nama teman dekatku

Kalimat efektifnya:

–          Saya  keberatan jika nama teman dekat  harus dicantumkan.

–          Saya keberatan jika saya harus mencantumkan nama teman dekat.

10.  Mereka berbicara kalimat efektif

Kalimat efektifnya:

–          Mereka membicarakan kalimat efektif.

–          Mereka berbicara tentang kalimat efektif.