Ragam Bahasa

12 Oct

** Apa yang dimaksud dengan ragam bahasa??

Ragam bahasa merupakan variasi bahasa yang pemakaiannya berbeda-beda karena tergantung kepada topik yang dibicarakan, hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, dan medium pembicara (Bachman 1990). Ragam bahasa adalah variasi bahasa yang dipergunakan oleh sekelompok masyarakat (Chaer, 2004:61). Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik (mempunyai prestise tinggi), biasanya digunakan di kalangan terdidik, di dalam kaarya ilmiah (karangan teknis, perundangan-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahsa baku atau ragam bahasa resmi.

** Kenapa ragam bahasa ada??

Bahasa adalah salah satu identitas sebuah bangsa demikian halnya dengan Bahasa Indonesia. Bahasa sebagai alat kornunikasi yang dipergunakan oleh masyarakat untuk berkerja sama, berinteraksi, dan mengidentitaskankan diri. Setiap bahasa mempunyai ketetapan atau kesamaan dalam hal tata bunyi, tata bentuk, tata kata, tata kalimat, dan tata makna. Tetapi karena adanya berbagai faktor yang terdapat di dalam masyarakat pemakai bahasa itu, seperti usia, pendidikan, agama, bidang kegiatan dan profesi, latar belakang budaya daerah, dan media yang dipergunakan, maka bahasa itu menjadi tidak seragam benar. Atau dengan kata lain bahasa itu menjadi beragam. Mungkin tata bunyinya menjadi tidak persis sama, mungkin tata bentuk dan tata katanya, atau mungkin tata kalimatnya.

>> Ilustrasinya:

1. Di masyarakat sering kita dengar istilah “Gaul”. Terutama pada golongan remaja, mereka beranggapan bahwa kemajuan zaman adalah dunia yang lahir untuk mereka, tidak terkecuali alat kornunikasi verbal yaitu bahasa yang sering mereka sebut dengan “Bahasa Gaul”. Hal ini dikarenakan karena bahasa gaul ini sangat praktis dipergunakan dan juga mudah dipahami. Khususnya dalam kalangan remaja yang lebih sering menggunakan bahasa gaul misalnya kalimat “ya iyalah, masaya iya dong”, “masa sich” dan kalimat “secara gituloh”.

2. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang tinggal di Jakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali, Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing memilikiciri khas yang berbeda-beda. Misalnya logat bahasa Indonesia orang Jawa Tengah tampak pada pelafalan /b/ pada posisi awal saat melafalkan nama-nama kota seperti Bogor, Bandung, Banyuwangi, dll. Logat bahasa Indonesia orang Bali tampak pada pelafalan /t/ seperti pada kata ithu, kitha, canthik, dll.

3, Bahasa Indonesia yang dipergunakan oleh kelompok yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, baik dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing. Misalnya pengucapan kata: fitnah, kompleks, vitamin, video, film, fakultas.Kelompok yang tidak berpendidikan mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas. Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.contoh:1) Ira mau nulis surat = Ira mau menulis surat2) Saya akan ceritakan tentang Kancil = Saya akan menceritakan tentang Kancil.

4. Ragam bahasa tulis dalam media cetak, misalnya:

a.”Selain dompet tersangka yang berisi uang, polisi menyita sebuah celurit yang masih berlumuran darah dari lokasi kejadian”.

Kalimat tersebut seharusnya diubah menjadi: : Selain dompet tersangka yang berisi uang, polisi juga menyita sebuah celurit yang masih berlumuran darah dari lokasi kejadian.

b. “Dua pelajar mencuri motor dimassa”.

Seharusnya pada kalimat ini disisipkan verba “hajar” atau “keroyok” antara morfem “di” dan “massa”, sehingga kalimatnya menjadi:  “Dua orang pelajar mencuri motor

dihajar (dikeroyok) massa”.

c. “Di Jl. Ngablak, Kelurahan Mukriharjo Lor, seusai tirakatan, baru warga mengadakan berbagai lomba untuk anak-anak. Antara lain, lomba membawa keleremg dengan

sendok, lomba joget, menggiring balon, dan mewarnai gambar”.

Dua kalimat ini mengalami gejala hiperkorek, kesalahn struktur kalimat, dan ketidakpaduan antarklausa. Kedua kalimat tersebut lebih tepat ditulis: “Seusai tirakatan, warga di Jl. Ngablak,

Kelurahan Mukriharjo Lor, mengadakan berbagai lomba untuk anak-anak, antara lain, lomba membawa keleremg dengan sendok, lomba joget, menggiring balon, dan mewarnai gambar

5. Contoh kalimat yang digunakan dalam undang-undang.

Sanksi Pelanggaran Pasal 44:

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1987 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta

1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda

paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus jutarupiah).

2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual pada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hasil hak cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),

dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan atau denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: