Archive | October, 2009

Visual Surface Determination

27 Oct

vsd1Visible Surface determination (VSD) atau disebut juga dengan Hidden Surface Removal (HSR) merupakan suatu cara untuk menentukan garis atau permukaan yang terlihat pada suatu objeck 3D dan spesifikasi pandangan (kamera). Masalahnya garis atau permukaan mana yang harus dihilangkan?

Terdapat 3 pendekatan utama pada permukaan terlihat, yaitu:

1. Tes penampakan konservatif (conservative surface test) hanya sebatas trivial reject saja, yang tidak memberikan jawaban, contohnya back-free culling. Untuk mendapat penyelesaiannya harus dilakukan dengan pendekatan yang lain.

2. Ketelitian gambar (image-precission) bagian yang erlihat ditentukan dengan point-point pada setiap posisis pixelnya pada bidang proyeksi. Contohnya pada raytracing, atau Z-buffer

// Image or Pixel Precision – O(p) operations

for(each pixel) {

determine the object closest to the viewer that is

pierced by the projector through the pixel;

draw the pixel in the appropriate color;     }

3. Ketelitian objek (object-precission) menentukan bagian mana yang terlihat dengan membandingkan objek dan bagian-bagiannya dalam layar . COntohnya pada poly clipping, BSP trees,dll

// Object Precision – O(n2) operations

for(each object) {

determine those parts of the object whose view is

unobstructed by other parts of it or any other object;

draw those parts of appropriate color; }

Terdapat beberapa cara atau metode untuk mendeteksi suatu permukaan yang terlihat ini, yaitu:

**  Metode Depth-Buffer

Metode ini untuk menguji dari depth-z dari masing-masing permkaan untuk menentukan permukaan terlihat. Pertama kali ditemukan oleh Catmull 74. Algoritma dari Depth-Buffer (Z-Buffer), yaitu:

– Menginisialisas depth-buffer dan me-refeshnya sehingga untuk semua posisi penyangga (x, y) ==>          depth(x,y)= 0, refresh(x,y)= Ibackground

– Menghitung kedalaman z pada setiap posisi (X,y) dalam polygon

–  If  z> depth(x,y), then set depth (x,y) = z, refresh(x,y)=Isurface(x,y)

– Hitung nilai z untuk polygon planar. Dengan rumus Z = (-D-Ax-By)/ C. Lalu pada (x+ Dx,y), nilia dari z adalah z’=z-A/C

– Jika polygon tidak planar, maka di-subdivide (dibagi lagi).

Keuntungan:

  • Presorting tidak ada dan perbandingan objek-objek diperlukan
  • Waktu yang diambil dari perhitungan permukaan terlihat adalah konstan
  • Merupakan implementasi yang sederhana dan mudah pada hardware
  • Baik untuk animasi dan sangat mudah untuk diterapkan

Kekurangan

  • Membutuhkan memori yang besar untuk Z dan Frame buffer
  • Merupakan subjek yang menggunakan nama lain.   == > Improved by A-buffer algorithm [CARP 84]
  • Dapat menggambarkan pixel yang sama beberapa kali

** Metode A-Buffer

Metode A-Buffer mewakili antialiased, daerah rata-rata, metode buffer akumulasi. Setiap posisi dari A-buffer memiliki 2 bidang, yakni:

  1. Depth field (Kedalaman bidang) memberikan nilai yag positif atau negative.
  2. Intensity filed (Intensitas diajukan) memberikan informasi intensitas dari permukaan atau merupkan nilai pointer.

** Metode Pohon BSP (Binary Space Partitioning)

Polygon akan scan-converted dengan benar, jika menyediakan pemesanan oklusi front-to-back, semua poligon yang ada di sisi lain dari viewer,dikonversi pertama kali dan diikuti oleh polygon tersebut, kemudian semua sisi yang sama dari viewer. Bentuk (construct) dari pohon BSP adalah:

bsd


Daun dari suatu pohon BSP merepresentasikan sebuah subspace cembung, dengan simpul yang mengikat daun dan setiap simpul dalam sebuah pohon BSP menggambarkan subspace – subspace yang terdiri dari semua node anak-anak,

Keuntugan dari metode adalah cocok untuk aplikasi yang berhubungan dengan perubahan sudut pandang tapi tidak untuk suatu objek. Kerugiannya adalah mememrlukan preprocessing (banyak polygon yang membelah (split) daripada depth-sort), penghitungan dalam pembuatan bayangan dapat terjadi lebih dari satu kali.

** Metode Octree

Metode direpensentasikan pada benda yang bervolume. Permukaaan yang terlihat ditentukan dengan mencari node (simpul) octree dari depan ke belakang.

Terdapat 2 octree traversal, yaitu:

Hierarchically recursive traversal (traversal hirarki recursif)

Test octants by OQ test accelerated by GPU (Uji tes octants oleh OQ dipercepat oleh GPU

** Metode Ray-Casting

Ray-Casting atau dikenal juga dengan ray-tracing merupakan metode untuk menghitung jalan gelombang atau partikel melalui suatu system. Dalam grafik computer ray–casting adalah teknik untuk menghasilkan suatu gambar dangan menelusuri jalan cahaya melalui pixel dalam gambar pesawat. Terdapat 2 bentuk metode yang berbeda, yaitu:

  1. Ray-tracing(physics) menganalisis system optic, contohnya pada sinyal radio, samudera akustik, dan dewsain optis
  2. Ray-tracing(graphics)digunakan untuk generasi gambar 3D, yang mampu menghasilkan tingkat ketajaman yang tinggi.

Contoh algoritmanya dari suatu metode Ray-Casting adalah:

select center of projection and window on viewplane;

for( each scan line in image) {

for (each pixel in scan line) {

determine ray from center of projection through pixel;

for (each object in scene) {

if (object is intersected and is closest considered thus far)

record intersection and object name; }

set pixel color to that at closest object intersection; }  }

** Metode Curved Surfaces

Ada 2 cara dalam metode ini, yaitu:

Catmull 74, 75

Dia menerangkan bahwa potongan kecil (patch) akan dibagi menjadi 4 potonga keci lagi secara rekursif ke dalam s dan t hingga proyeksny dapat mencakup tidak lebih dari 1 pixel. Setelah itu, metode z-buffer diterapkan.

Subdivisi adaptif

Pembagian patch hanya terjadi pada direksinya (arahnya), jika patch tesebut sudah cukup datar terhadap yang lainnya. Setelah pembagiannya sudah cukup, maka tiap patch dijadijkan/diperlakukan menjadi segiempat.Terakhir diterapkannya algoritma scan-line.

** Metode Wireframe

Metode ini merupakan penyesuaian dari metode z-buffer, dimana permukaan dapat dilukiskan/digambarkan ke dalam refresh buffer sehingga permukaan interior menjadi warna latar belakangnya dan batas-batasnya menjadi warna di latar depan.

Selain itu, terdapat juga beberapa teknik untuk mengefisiensikan algoritma dari permukaan terlihat. Di antaranya adalah sebagai berikut:

a.  Koheren (Coherence) == > Objek, Face, Edge, Scan-line, Luas(Daerah), Kedalaman dan Frame

b. Extents and Bounding Volumes

Contoh:

Gambar di samping menampilkan gambar segitiga dan bounding volumenya.

c Hierarchy

hirarkiTesting dimulai dari akar atau puncak dari node, yaitu:

1. Jika terletak di luar, maka semua objek ditolak.

2. Sebaliknya, sub-node dites berulang

.

d. Spatial Partitioning

Contoh gambar:

(b)

(a)

e. Back-Face Culling

Merupakan back-face penghapusan yang akan membuat tidak akan ada lagi faces (gambaran) di belakang objek yang akan ditampilkan. Batasan dari algoritma ini adalah:

  1. Hanya dapat digunakan pada benda padat yang dimodelkan sebagai polygon mesh. Ini merupakan model yang paling umum untuk membangun system grafis line-scan.
  2. Bekerja baik pada polyhedral cembung, tapi belum tentu pada polyhedral cekung. Contohnya pada gambar di bawah ini, dimana bagian dari hidden face tidak akan dihapuskan oleh penghapusan back-face (pengolahan yang lebih lanjut).

Titik-titik yang terdapat pada permukaan normal dapat dikategorikan bebrapa jika dilihat dari suatu pusat proyeksi pada poligonnya.

Positive  : poligon back-face

Zero         : jika dilihat dari tepi

Negative : poligon  front-face

Linguistik di Indonesia

26 Oct

Linguistik adalah ‘ilmu tentang bahasa’. Di Indonesia ilmu linguistik ini berkembang dengan cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya  dilakukan penelitian  tentang ilmu ini serta banyaknya orang  yang meminati dan menggelutinya. Orang-orang tersebut  mendapat pengaruh dari berbagai aliran dari tokoh-tokoh Linguitik sendiri, seperti:  Ferdinand de Saussure (Bapak Linguistik Modern), aliran Praha (diperakarsai oleh Vilem Mathesius) , Louis Hjelmslev, John R. Firth,dll.

Dalam pengembangan ilmu linguistik, orang-orang yang menggelutinya  lebih  sering  mengawali kiprahnya di bidang non-linguistik atau dalam bidan non-bahasa Indonesia.  Akan tetapi, bidang linguistik yang paling nyata sumbangsihnya di negara ini adalah leksikografi, atau di bidang perkamusan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya  penanganan dalam menyusun  berbagai kamus ekabahasa, dwibahasa, peristilahan, dan sebagainya.

Seorang pelopor leksiografi modern Indonesia, yaitu W.J.S Poerwadarminta, yang disebut sebagai Bapak Kamus Indonesia. Kamusnya yang paling terkenal adalah Kamus Umun Bahasa Indonesia. Kamus ini pertama kali dicetak pada tahun 1952 dan sudah mengalami pencetakan ulang sebanyak 10 kali pada tahun 1987.

Pada awalnya, Poerwadarminta lebih banyak menuangkan perhatiannya pada filsafat, bahasa Jawa, dan bahasa Jawa Kuno.  Buku pertamanya adalah Mardi Kawi (1930), yang berisi tentang pelajaran bahasa Kawi, sedangkan kamus pertamanya adalah Kawi Djarwa (1931), yang kemudian disusul dengan kamus Baoesastra Indonesia-Djawi. Selain itu, beliau juga menerbitkan buku pelajaran bahasa Jepang yang berjudul Puntja Bahasa Nippo dan membuat Kamus Harian Jepang Indonesia.

Di antara semua karyanya  yang menjadi warisan terbesarnya  bagi para penuntut ilmu di Indonesia adalah Kamus Umum Bahasa Indonesia. Kamus ini menggunakan peribahasa sebagai contoh penggunaan kata. Kamus inilah yang menjadi dasar atau cikal bakal dalam pembuatan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan pada tahun 1989 dan ditangani oleh para pekamus dari Pusat Bahasa.

Sumber: Kushartanti, Untung Y, Multamia RMt, “Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik”, 2005, Jakarta: Gramedia.

Ragam Bahasa

12 Oct

** Apa yang dimaksud dengan ragam bahasa??

Ragam bahasa merupakan variasi bahasa yang pemakaiannya berbeda-beda karena tergantung kepada topik yang dibicarakan, hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, dan medium pembicara (Bachman 1990). Ragam bahasa adalah variasi bahasa yang dipergunakan oleh sekelompok masyarakat (Chaer, 2004:61). Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik (mempunyai prestise tinggi), biasanya digunakan di kalangan terdidik, di dalam kaarya ilmiah (karangan teknis, perundangan-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahsa baku atau ragam bahasa resmi.

** Kenapa ragam bahasa ada??

Bahasa adalah salah satu identitas sebuah bangsa demikian halnya dengan Bahasa Indonesia. Bahasa sebagai alat kornunikasi yang dipergunakan oleh masyarakat untuk berkerja sama, berinteraksi, dan mengidentitaskankan diri. Setiap bahasa mempunyai ketetapan atau kesamaan dalam hal tata bunyi, tata bentuk, tata kata, tata kalimat, dan tata makna. Tetapi karena adanya berbagai faktor yang terdapat di dalam masyarakat pemakai bahasa itu, seperti usia, pendidikan, agama, bidang kegiatan dan profesi, latar belakang budaya daerah, dan media yang dipergunakan, maka bahasa itu menjadi tidak seragam benar. Atau dengan kata lain bahasa itu menjadi beragam. Mungkin tata bunyinya menjadi tidak persis sama, mungkin tata bentuk dan tata katanya, atau mungkin tata kalimatnya.

>> Ilustrasinya:

1. Di masyarakat sering kita dengar istilah “Gaul”. Terutama pada golongan remaja, mereka beranggapan bahwa kemajuan zaman adalah dunia yang lahir untuk mereka, tidak terkecuali alat kornunikasi verbal yaitu bahasa yang sering mereka sebut dengan “Bahasa Gaul”. Hal ini dikarenakan karena bahasa gaul ini sangat praktis dipergunakan dan juga mudah dipahami. Khususnya dalam kalangan remaja yang lebih sering menggunakan bahasa gaul misalnya kalimat “ya iyalah, masaya iya dong”, “masa sich” dan kalimat “secara gituloh”.

2. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang tinggal di Jakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali, Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing memilikiciri khas yang berbeda-beda. Misalnya logat bahasa Indonesia orang Jawa Tengah tampak pada pelafalan /b/ pada posisi awal saat melafalkan nama-nama kota seperti Bogor, Bandung, Banyuwangi, dll. Logat bahasa Indonesia orang Bali tampak pada pelafalan /t/ seperti pada kata ithu, kitha, canthik, dll.

3, Bahasa Indonesia yang dipergunakan oleh kelompok yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, baik dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing. Misalnya pengucapan kata: fitnah, kompleks, vitamin, video, film, fakultas.Kelompok yang tidak berpendidikan mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas. Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.contoh:1) Ira mau nulis surat = Ira mau menulis surat2) Saya akan ceritakan tentang Kancil = Saya akan menceritakan tentang Kancil.

4. Ragam bahasa tulis dalam media cetak, misalnya:

a.”Selain dompet tersangka yang berisi uang, polisi menyita sebuah celurit yang masih berlumuran darah dari lokasi kejadian”.

Kalimat tersebut seharusnya diubah menjadi: : Selain dompet tersangka yang berisi uang, polisi juga menyita sebuah celurit yang masih berlumuran darah dari lokasi kejadian.

b. “Dua pelajar mencuri motor dimassa”.

Seharusnya pada kalimat ini disisipkan verba “hajar” atau “keroyok” antara morfem “di” dan “massa”, sehingga kalimatnya menjadi:  “Dua orang pelajar mencuri motor

dihajar (dikeroyok) massa”.

c. “Di Jl. Ngablak, Kelurahan Mukriharjo Lor, seusai tirakatan, baru warga mengadakan berbagai lomba untuk anak-anak. Antara lain, lomba membawa keleremg dengan

sendok, lomba joget, menggiring balon, dan mewarnai gambar”.

Dua kalimat ini mengalami gejala hiperkorek, kesalahn struktur kalimat, dan ketidakpaduan antarklausa. Kedua kalimat tersebut lebih tepat ditulis: “Seusai tirakatan, warga di Jl. Ngablak,

Kelurahan Mukriharjo Lor, mengadakan berbagai lomba untuk anak-anak, antara lain, lomba membawa keleremg dengan sendok, lomba joget, menggiring balon, dan mewarnai gambar

5. Contoh kalimat yang digunakan dalam undang-undang.

Sanksi Pelanggaran Pasal 44:

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1987 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta

1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda

paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus jutarupiah).

2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual pada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hasil hak cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),

dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan atau denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).